Khalayak Bahasa

tanja bahasaMengapa Anda harus diawali dengan huruf kapital? Kapan pun ditulis serangkai? Mengapa p pada mempunyai dan k pada mengkaji tidak luluh? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menghantui benak saya saat kembali mempelajari bahasa Indonesia. Ternyata, bukan saya saja yang mempertanyakan berbagai hal seputar kebahasaan tersebut. Rekan-rekan di Twitter pun kerap menanyakan hal  serupa berulang-ulang. Hal itulah yang mendorong lahirnya Tanja Bahasa (TB) pada awal tahun 2012.

Selengkapnya

Sandangan

Wearable atau sandanganPemaparan Tim Cook mengenai Apple Watch pada 9 September 2014 kemarin membawa Apple memasuki pasar arloji pintar (smartwatch). Gawai ini diluncurkan sebagai jawaban terhadap beberapa perangkat Android Wear yang telah lebih dulu diperkenalkan, seperti LG G Watch dan Samsung Gear Live. Produk-produk ini melambungkan neologisme wearables (wearable computer) yang didefinisikan sebagai “miniature electronic devices that are worn by the bearer under, with or on top of clothing”. Lalu, apa padanan bahasa Indonesia yang pas untuk wearables?

Selengkapnya

Keterbacaan

KeterbacaanTulisan dibuat untuk dibaca. Namun, tak jarang saya enggan melanjutkan — atau bahkan berhenti — membaca karena tulisan tersebut sulit dipahami. Saya maklum bila kesulitan itu muncul karena topik yang dibahas memang pelik. Sayangnya, sering kali kesulitan tersebut muncul karena berbagai faktor lain. Inilah yang membuat saya tertarik dengan topik keterbacaan atau readability: apa yang perlu dilakukan guna memudahkan orang membaca tulisan kita?

NIACE (National Institute of Adult Continuing Education) — organisasi nirlaba yang berbasis di Inggris dan bertujuan untuk mempromosikan pendidikan orang dewasa — memberikan beberapa kiat untuk meningkatkan keterbacaan tulisan. Kiat-kiat ini dicantumkan dalam PDF (dalam bahasa Inggris) yang dapat diunduh dari situs mereka. Dokumen NIACE ini menyebut 9 aspek yang harus diperhatikan guna meningkatkan keterbacaan tulisan. Berikut ini ringkasan tulisan tersebut dalam bahasa Indonesia disertai dengan beberapa catatan tambahan dari saya.

Selengkapnya

Urun daya

Catatan: Judul asli tulisan ini adalah “daya khalayak”, sesuai dengan usul awal saya. Urun rembuk pada beberapa media sosial melahirkan istilah baru “urun daya” dari @donnybu yang dapat lebih diterima. Tulisan ini dipertahankan sebagai arsip proses pengalihbahasaan istilah.

Crowdsourcing merupakan leburan (portmanteau) dari crowd dan sourcing dengan analogi dari outsourcing. Istilah bahasa Inggris ini diperkenalkan oleh Jeff Howe melalui tulisan “The Rise of Crowdsourcing” pada majalah Wired Juni 2006. Sebagai Wikipediawan, istilah ini tidak asing bagi saya karena apa yang kami lakukan di Wikipedia merupakan salah satu bentuk crowdsourcing.

Selepas Pilpres 2014, istilah crowdsourcing marak digunakan di Indonesia untuk merujuk kepada berbagai prakarsa penghitungan suara. Sebagai suatu neologisme, banyak orang belum memahami makna istilah ini dan bahkan menganggap konsep crowdsourcing tidak masuk akal. Mungkin bila kita pakai bahasa kita sendiri, konsep ini bisa lebih diterima. Jadi, apa padanan bahasa Indonesia untuk crowdsourcing?

Selengkapnya