Pun

Salah satu hal yang paling membuat saya frustrasi dari bahasa Indonesia adalah ketiadaan pola kata mana yang ditulis serangkai dengan partikel pun. Seperti kita ketahui, partikel ini memiliki beberapa makna, a.l. juga (mis. saya pun pergi), meski (mis. mahal pun akan kubeli), dan saja (mis. berdiri pun tidak dapat). Pedoman EyD terbaru (2009) menyatakan bahwa:

partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya, kecuali pada gabungan yang lazim dianggap padu yang ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Selengkapnya

Jika, maka

Sebagai pemrogram komputer, saya sangat familier dengan pasangan if-then, yang dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan menjadi pasangan jika-maka. Pasangan ini merupakan salah satu dari pernyataan bersyarat (conditional statement) yang dipakai oleh bahasa pemrograman untuk mengatur alur logika program. Sebagai pasangan, keduanya tentu saja harus ditulis bersama, meskipun ada beberapa bahasa pemrograman yang menghilangkan pernyataan eksplisit then dalam kode programnya.

Dalam bahasa Indonesia, kata jika dan maka adalah kata sambung, atau konjungsi, yang dipakai untuk menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat pada kalimat majemuk bertingkat. Pada kalimat jenis ini, anak kalimat berisi gagasan penjelas dan didahului oleh kata sambung, sedangkan induk kalimat berisi gagasan utama tanpa didahului oleh kata sambung. Pasangan jikamaka tidak boleh digunakan sekaligus dalam satu kalimat majemuk bertingkat. Kaidah “pencerai” pasangan ini secara umum dapat dinyatakan sebagai berikut:

Jangan gunakan dua kata sambung sekaligus dalam kalimat majemuk bertingkat karena akan menimbulkan ketaksaan gagasan.

Selengkapnya

Miting

Memiting. Sumber gambar: USMC

“Pak, skedul miting dengan klien minggu depan dikensel, ya.” Demikian ujar salah seorang karyawan di kantor saya. Saya paham maksudnya, yaitu jadwal rapat dengan klien minggu depan dibatalkan. KBBI sudah mencantumkan kata skedul (Ing: schedule), klien (Bld: cliënt; Ing: client), dan mengensel (Ing: cancel). Kata miting belum tercantum (meskipun sudah ada kata memiting), mungkin karena para penyusun KBBI masih ragu apakah serapan ini cukup dapat diterima. Saya belum melakukan analisis statistik penggunaan kata, namun tampaknya miting bahkan lebih kerap dipakai daripada rapat. Saya duga kata ini akan masuk dalam KBBI edisi V.

Selengkapnya

Karut-marut

Sumber gambar: Wikipedia

Dari salah satu milis saya mendapat berita tentang The Raid (atau Serbuan Maut), film laga (atau “film eksyen” menurut Antara) Indonesia yang belakangan sedang mendapat perhatian dunia internasional. Yang menarik perhatian saya pada berita dari milis tersebut adalah kutipan berikut:

“… diantara carut marutnya kehidupan kriminalitas dan korupsi di Jakarta …”.

Oke, “di” dan “antara” memang seharusnya dipisah, tetapi kita sudah bosan membahas masalah itu toh? Perhatikan kata “carut marut”. KBBI mencantumkan entri “carut-marut” (dengan tanda hubung) dengan makna “n (1) bermacam-macam perkataan yg keji; (2) segala coreng-moreng (bekas goresan); goresan yg tidak keruan arahnya” sebagai sublema dari dua homonim “carut“: “(1) a keji, kotor, cabul (tt perkataan); (2) n luka bekas goresan”. Jadi, apakah kalimat dalam berita tersebut menggambarkan “perkataan yang keji” atau “coreng-moreng” kehidupan kriminalitas di Jakarta?

Selengkapnya