Manis getir

Pertanyaan @gitaputrid membuat saya tergelitik, “Adakah terjemahan bahasa Indonesia untuk bittersweet?” Spontan saya teringat dengan “pahit getir“, ungkapan untuk menggambarkan berbagai kesulitan dan kesusahan (tentang perjalanan hidup). Berangkat dari analogi dengan ungkapan ini, saya berpikir untuk memadankan bittersweet dengan “manis getir“. Eh, ternyata /rif pun pernah menggunakan “manis getir” sebagai judul tembang mereka!

Selengkapnya

Dengan senang hati

Saya kadang bingung kala menanggapi ungkapan “terima kasih“. Biasanya saya menanggapi dengan “sama-sama”. Tanggapan itu pula yang biasa saya terima dari orang lain sebagai balasan ucapan terima kasih saya. Dalam ragam informal, saya pikir tanggapan semacam ini tidak masalah. Yang membuat saya bingung adalah bagaimana menanggapi ungkapan “terima kasih” dalam ragam yang lebih formal serta apakah “sama-sama” ini dapat diberikan dalam semua konteks.

KBBI mencantumkan entri “sama-sama” sebagai adverbia dengan makna “kedua belah pihak tidak berbeda atau tidak berlainan; semuanya”. Nah, saya merasa makna ini tidak cocok sebagai tanggapan “terima kasih”. Apa yang tidak berbeda? Apa yang semuanya?

Selengkapnya

Tesis

Pada hari Selasa, 19 Juni 2012 yang lalu, saya berhasil melewati sidang karya akhir pascasarjana di Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia (MTI UI). Meskipun ada beberapa perbaikan yang perlu dilakukan, dewan penguji yang terdiri dari Riri Satria (pembimbing), Yudho Giri Sucahyo, dan Budi Yuwono menerima tesis saya yang berjudul “Strategi Peningkatan Kualitas Ilmiah Wikipedia Bahasa Indonesia“. Alhamdulillah.

Sejak semester II dua tahun yang lalu, saya sudah berniat menjadikan keandalan Wikipedia sebagai topik karya akhir saya. Sebagai wikipediawan, saya resah melihat penolakan akademisi untuk menjadikan Wikipedia sebagai sumber rujukan. Padahal, saya sendiri hampir selalu menggunakan Wikipedia sebagai gerbang utama pembelajaran mengenai suatu topik. Saya yakin banyak orang lain yang melakukan hal yang sama.

Selengkapnya

Kepo

Gambar: lidahibu.com

“Jangan kepo, ah.” Kata kepo pertama kali saya (curi) dengar beberapa bulan yang lalu dari percakapan di meja sebelah saya – yang penuh oleh mahasiswa LSPR – saat sedang makan di restoran dekat kantor. Meskipun tidak tahu makna sebenarnya, dari konteks pembicaraan mereka saya menebak bahwa kalimat itu kurang lebih berarti, “Jangan ingin tahu urusan orang lain, ah.” Lumayan, bertambah satu kosakata bahasa gaul saya.

Dua hari yang lalu saya menanyakan makna dan asal kata kepo kepada khalayak Twitter. Dari berbagai tanggapan yang masuk, tampaknya tebakan saya tentang makna kata ini cukup betul. Penjelasan tentang asal kata kepo beragam, tetapi sebagian besar mengatakan bahwa kata ini berasal dari bahasa atau dialek Hokkian atau Min Nan. Tanggapan dari @sfahmism mengantarkan saya ke tulisan Aussie Pete, SINGLISH – A Language Guide for Foreigners, yang mencantumkan: Selengkapnya

Klik

KBBI IV menambahkan homonim ketiga untuk kata klik dengan makna (1) kegiatan menekan dan melepas tombol pada tetikus komputer; (2) suara ‘klik’ pada kamera, tombol komputer, dsb. Kata serapan click dalam bahasa Inggris ini diturunkan menjadi mengeklik bila diberi awalan meN- karena dianggap memiliki satu suku kata (ekasuku). Dalam kaidah pengimbuhan bahasa Indonesia, kata dasar ekasuku mendapat swarabakti “e” saat diberi awalan meN-. Contoh lain pengimbuhan ekasuku ini adalah mengepelmengebom, dan mengecat.

Meskipun memiliki pola yang mirip karena sama-sama diawali oleh konsonan rangkap “kl” dan berasal dari serapan bahasa asing, kata klaim menjadi mengklaim (bukan mengeklaim) saat diberi awalan meN-. Ada dua kemungkinan: Selengkapnya