Bukan dan tidak

Sebagai kata keterangan (adverbia), bukan dan tidak digunakan untuk mengingkarkan kata yang mengikutinya. Bukan digunakan sebagai pengingkar kata benda, misalnya bukan saya, sedangkan tidak digunakan sebagai pengingkar jenis kata lain, misalnya tidak pergi. Secara naluriah, penutur jati bahasa Indonesia umumnya memahami aturan ini. Sebaliknya, penutur bahasa asing yang belajar bahasa Indonesia mungkin agak sulit memahami aturan ini karena tata bahasa mereka tidak membedakan pengingkaran atau negasi ini. Bahasa Inggris, misalnya, tidak membedakan pengingkaran this is not my computer dan she is not sad yang keduanya sama-sama menggunakan not sebagai pengingkar.

Dalam bentuk kata sambung (konjungsi) korelatif, kedua kata ini memiliki pasangan masing-masing. Bukan berpasangan dengan melainkan, sedangkan tidak berpasangan dengan tetapi. Contoh:

  • Saya bukan malaikat, melainkan manusia biasa.
  • Dia tidak mencuri, tetapi meminjam.

Aturan pasangan semacam ini merupakan aturan yang biasa dalam suatu bahasa. Bahasa Inggris, misalnya, juga memiliki pasangan konjungsi korelatif yang tidak bisa dilanggar dengan semena-mena, seperti eitheror dan neithernor.

Dalam tulisannya, Hassall (2012) menyatakan bahwa bukan dapat digunakan untuk mengganti tidak sebagai penekanan, misalnya dia bukan sedih. Hassal juga tidak menyatakan secara spesifik pasangan bukanmelainkan dan tidaktetapi. Meskipun menarik dan terjadi secara nyata dalam masyarakat penutur kita, pendapat beliau ini mungkin lebih cocok untuk ragam percakapan, bukan ragam formal.

Jadi, bukan masalah atau tidak masalah?

Rujukan:

  • Alwi, H., et al. (2003). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.
  • Hassall, T. (2012). Negation: Tidak, Bukan dan Belum. Diakses pada 25 Nov 2012 02.17.

Satu komentar pada “Bukan dan tidak

  1. > Dia bukan sedih. Dia bingung.
    Menurut pemahaman saya, “bukan” di sini mengingkarkan keseluruhan kalimat “Dia sedih”, yang tentu saja dikategorikan sebagai nomina, lalu menawarkan penggantinya: “Dia bingung”.

    Berbeda kasusnya dalam:
    > Dia tidak sedih, tetapi bingung.
    Pada kalimat ini, yang diingkarkan adalah “sedih” yang merupakan adjektiva.

    Sementara, ekspresi “tidak masalah” berasal dari kalimat lengkap, “(Hal ini) tidak (menjadi) masalah.” Sebagaimana kita ketahui, pada ragam lisan, kita terbiasa menghilangkan kata-kata yang kita anggap sudah diketahui oleh kawan bicara.

    Mohon perbaiki, bila saya salah.

  2. @antyo: Haha. “Konsisten” memang kadang dikacaukan dengan “kuno”, Paman.

    @daniel: Terima kasih atas analisisnya. Keduanya cukup masuk akal, meskipun kita masih perlu mencari sumber rujukan untuk yang pertama (dia sedih = nomina).

  3. Betul, Mas, saya masih mengalami kesulitan dalam mencari rujukannya.
    Terima kasih sudah menuliskan artikel ini. Sangat bermanfaat untuk menyegarkan pemahaman bahasa Indonesia saya, terlebih sebagai pengajar BIPA.

    Salam dari Ubud.

    • Saya yang perlu berterima kasih atas analisis Mas Daniel ini. Analisis ini membantu pemahaman kita atas gejala bahasa yang tampaknya menyimpang dari kaidah, tapi nyata ada dalam masyarakat penutur dan dapat sebenarnya dapat diterangkan.

      Selamat menjalankan tugas sebagai pengajar BIPA! Pasti asyik banget mengajar di Ubud #mengiri-menganan

Tinggalkan Balasan ke Daniel Prasatyo (@daprast) Batalkan balasan