#CC10

Logo CC#10 (CC-BY). Digubah dari ciptaan Elliot Harmon (CC-BY)

Sepuluh tahun yang lalu, pada tanggal 16 Desember 2002, Creative Commons (CC) meluncurkan himpunan lisensi hak cipta pertamanya. Lisensi-lisensi ini memungkinkan pemilik ciptaan dengan mudah menyampaikan kepada orang lain bahwa ciptaan mereka bebas untuk diperbanyak atau digunakan dengan cara lain sesuai dengan ketentuan tertentu. Dengan lisensi CC, pemilik ciptaan dapat menyatakan pilihan tentang apa yang dapat dilakukan terhadap ciptaan tersebut: perlu diatribusikan, perlu disebarkan dengan lisensi serupa, boleh dikomersialkan, dan/atau boleh digubah. Keluwesan untuk memilih hak-hak apa yang ingin dipertahankan ini tidak diberikan oleh hak cipta tradisional yang mempertahankan semua hak dan melarang semua bentuk pengumuman dan perbanyakan ciptaan. Lisensi CC menawarkan istilah some rights reserved (beberapa hak dipertahankan) sebagai alternatif terhadap konsep all rights reserved (semua hak dipertahankan) hak cipta tradisional.

CC dibangun dari gagasan bahwa kreativitas dan inovasi bergantung pada kekayaan rintisan intelektual sebelumnya. Kita bersandar pada bahu raksasa dengan memanfaatkan dan menggubah gagasan dan ciptaan dari para sejawat dan pendahulu kita. Kehadiran internet mendorong kegiatan kreatif kolaboratif semacam ini dengan menyediakan kemudahan komunikasi dan penyebaran ciptaan. Sayangnya, hukum hak cipta yang berlaku membatasi kegiatan seperti ini dengan mempersulit untuk mengetahui kapan suatu ciptaan dapat diperbanyak atau digubah secara legal. CC membantu mengurangi hambatan kreativitas yang sudah tidak selaras dengan era digital saat ini. Dengan CC, semangat berbagi dari para pencipta diharapkan dapat memberdayakan para pencipta lain untuk menghasilkan ciptaan intelektual baru.

Pada bulan ini, Creative Commons merayakan satu dasarwarsa mendukung semangat berbagi. Perayaan ini diadakan di seluruh dunia selama sepuluh hari antara tanggal 7 hingga 16 Desember 2012 dengan tagar resmi #CC10. Creative Commons Indonesia (CCID) berpartisipasi dalam perayaan global ini dengan menggelar acara Peringatan Satu Dasawarsa Creative Commons Mendukung Semangat Berbagi. Acara ini diadakan pada tanggal 9 Desember 2012 pukul 19.00–21.00 di @america, Pacific Place, Jakarta, kurang lebih satu bulan sejak peluncuran lisensi CC dalam bahasa Indonesia pada 11 November 2012 yang lalu.

Perhelatan dibuka dengan sambutan dari Ari Juliano Gema, Direktur Proyek Creative Commons Indonesia, yang diteruskan dengan pemutaran video sambutan dari Lawrence Lessig, salah satu pendiri Creative Commons. Pembawa acara, Isabella Apriyana, selanjutnya memandu gelar wicara dengan tiga sobat CC, yaitu Elisa Sutanudjaja dari Rujak Center for Urban Studies, Dennis Adhiswara dari Komunitas Web Series Indonesia, dan Pandji Pragiwaksono sebagai perwakilan para pemusik. Rekaman acara ini dapat ditonton di situs @america.

Elisa menuturkan bahwa Rujak, akronim dari Ruang Jakarta, adalah komunitas yang bertujuan untuk membangun Jakarta yang lebih baik dan lestari. Sejak sekitar tahun 2009, Rujak telah mencantumkan aturan penggunaan “boleh digunakan asal menyebutkan sumber dan bukan tujuan untuk komersial” dalam beberapa ciptaan mereka. Dengan aturan ini, mereka berharap agar orang dapat membuat ciptaan lain berdasarkan ciptaan mereka tersebut. Baru belakangan mereka menyadari bahwa konsep aturan ini selaras dengan lisensi CC-BY-NC-SA.

Dennis berkisah bahwa KWSI lahir dari keresahan atas kualitas tayangan televisi di Indonesia. Para pendiri KWSI lalu memutuskan untuk melakukan tindakan nyata untuk menyikapi hal tersebut: membuat sendiri video alternatif yang diharapkan lebih berkualitas. Mereka memutuskan untuk menyebarkan video-video tersebut melalui web dan menggratiskan orang untuk menonton. Lisensi CC membantu mereka dalam menyampaikan aturan pilihan penggunaan ciptaan mereka kepada publik serta memudahkan penggunaan ulang ciptaan orang lain dalam video mereka.

Pandji menyatakan bahwa kultur remix & remake sangat kental dalam genre musik hiphop. Para pemusik genre ini tidak berkeberatan bila musiknya dimanfaatkan ulang oleh para pemusik lain. Bahkan, cara inilah yang membuat genre musik ini tumbuh pesat. Lisensi CC sangat cocok dengan budaya musik hiphop.

Tiga kisah dari praktisi tata ruang kota (Elisa), pembuat video (Dennis), dan pemusik hiphop (Pandji) ini menunjukkan bahwa berbagi dapat memberdayakan kreativitas. Lisensi CC mendukung hal tersebut. Ayo berbagi dengan legal dan dukung kreativitas. Pokoknya, Creative Commons!

Satu komentar pada “#CC10

  1. soal CC ini juga pertama kali saya dengar pas di PB 2008 lalu.. sama bung Ari Juliano, dan ada mas Ivan juga kan ya? :mrgreen:

    beberapa karya tulis blog saya, dan juga ppt udah saya cantumkan CC — dengan keterangan hak dari pembaca seperti apa. tapi ya, sepertinya memang memerlukan “niat” lebih saat pembaca menanyakan apa maksudnya, serta “gemes” kalo ada yang ga ngerti sama maksud CC tersebut.

Tinggalkan Balasan ke Ivan Lanin Batalkan balasan