Dikarenakan

DikarenakanPenutur bahasa Indonesia acap lebai (adj. berlebihan; mubazir). Bentuk yang pendek dibuat jadi panjang, padahal bentuk pendeknya saja sudah cukup. Ini merupakan salah satu sebab kalimat bahasa Indonesia kerap lebih panjang daripada padanan bahasa Inggrisnya.

Ambil contoh agar supaya. Kedua kata penghubung (konjungsi) agar dan supaya ini bersinonim dan bermakna sama, yakni menandai harapan. Kita cukup menggunakan salah satu di antaranya, misalnya “Peraturan ini dibuat agar …” atau “Peraturan ini dibuat supaya …”. Tidak perlu “Peraturan ini dibuat agar supaya …”.

Salah satu bentuk kelebaian baru yang semakin sering saya temukan belakangan ini adalah kata kerja pasif dikarenakan. “Masalah ini muncul dikarenakan …”, demikian salah satu bentuk kalimat yang dirasa galib, tetapi sebenarnya kurang tepat. Coba ganti dikarenakan dengan karena. Bukan masalah, kan?

Saya menduga bentuk dikarenakan muncul sebagai analogi dari bentuk disebabkan. Analogi ini tidak tepat karena kata dasarnya berbeda sifat: sebab kata benda, sedangkan karena kata penghubung atau konjungsi. Kata benda memang dapat diberi imbuhan, sedangkan konjungsi tidak pernah diimbuhkan. Coba ingat, pernahkah kita mengimbuhkan konjungsi lain seperti supaya (menyupayakan!) atau jika (dijikakan!)?

Cara lain untuk menguji keabsahan kata kerja pasif adalah dengan melihat bentuk kata kerja aktifnya. Kata menyebabkan memang lazim kita pakai, tetapi pernahkah kita menggunakan kata mengarenakan?

Ayo kurangi kebiasaan buruk dalam berbahasa!

Satu komentar pada “Dikarenakan

  1. Sepakat mas Ivan, banyak yang lebai juga dengan pleonasme: seperti misalnya, alternatif lain, warga masyarakat, bakal calon, adalah merupakan, prioritas utama, dst. Mungkinkah dipengaruhi bahasa feodal di birokrasi selama 32 tahun?

    • Contoh yg menarik, mas. Pertanyaan sy: bakal calon bukannya memang berbeda dgn calon ya? Misalnya dlm pemilihan presiden, boleh saja kita punya 10 bakal calon, tapi mereka belum tentu benar2 mencalonkan diri atau memenuhi syarat, untuk menjadi calon resmi.
      Demikian pula dgn prioritas pertama, kedua, dst. Misal waktu memilih sekolah, siswa diminta memasukkan 5 universitas dgn urutan sesuai prioritas mrk. Jadi prioritas pertama: UI, kedua: Unsri, dst.
      Boleh dibantu terangkan?
      Terima kasih :)

  2. Tapi saya merasa agak janggal jika kalimat yang dimulai dengan “Hal ini dikarenakan …” diubah jadi “Hal ini karena …”

    • Coba kita uji dengan sifat kata benda:
      1. Berfungsi sebagai subjek, objek, atau pelengkap: Sebab peristiwa itu adalah …
      2. Diingkarkan dengan “bukan”, bukan “tidak”: Kelalaian bukan sebab peristiwa itu.
      3. Dapat diikuti kata sifat: Sebab baru peristiwa itu adalah …
      Semua kalimat di atas cukup dapat diterima, meski kata “sebab” di sana bisa diganti dengan “penyebab”. Jadi, “sebab” dapat dikelompokkan sebagai kata benda.

Tinggalkan Balasan