Gawai

LG L7 P713Bulan lalu saya sekali lagi kehilangan ponsel. Musibah ini saya manfaatkan untuk “berpindah agama” dari BlackBerry (BB) kepada Android. Saat itu, BlackBerry Messenger (BBM), satu-satunya alasan saya bertahan menggunakan BB, dikabarkan juga akan tersedia pada platform Android (dan iOS). Setelah menimbang beberapa pilihan, akhirnya saya memilih LG Optimus L7 II P713 sebagai ponsel yang optimal bagi saya.

Dalam bahasa Inggris, mainan baru saya ini sering disebut gadget. Menurut English Wiktionary,

gadget is any device or machine, especially one whose name cannot be recalled. Often either clever or complicated.

Kata gadget merujuk kepada alat atau instrumen (baru) yang memiliki fungsi tertentu. Kata ini diduga berasal dari kata bahasa Prancis gâchette, meskipun ada berbagai pendapat lain tentang asal kata ini. Secara tertulis, kata ini pertama kali digunakan di dalam buku Spunyarn and Spindrift, A sailor boy’s log of a voyage out and home in a China tea-clipper karya Robert Brown (1886).

Glosarium Badan Bahasa mengusulkanacang” sebagai padanan gadget. Dalam dunia pelayaran, kata ini konon bermakna perkakas kecil yang gunanya untuk menunjukkan keadaan air dalam ketel dsb. Menurut Pak Zul, guru bahasa saya, padanan ini diusulkan oleh Pak Adjat Sakri dalam buku Petunjuk bagi Pengarang, Penyunting, dan Korektor (1984). Istilah lain sejenis yang dipadankan di dalam buku tersebut antara lain adalah sbb.:

accessories (lengkapan); apparatus (radas); appliance (peranti); device (gawai); equipment (perlengkapan); gauge (sukat); instrument (alat); tool (perkakas); utensil (perabot).

Rasa bahasa saya berontak. Saya masih kurang nyaman dengan kata “acang”. Kata ini tidak berkesan canggih, sifat yang semestinya melekat pada gadget. Untunglah, Mas Erich menyodorkan “gawai” sebagai alternatif padanan gadget pada suatu diskusi di milis Bahtera. Walau “gawai” telah digunakan oleh Pak Adjat sebagai padanan device, saya merasa kata ini lebih enak daripada “acang”.

Kamus mencantumkan dua homonim “gawai”: (1) n kerja; pekerjaan; (2) kl n alat; perkakas. Makna pertama digunakan sebagai pembentuk kata pegawai yang masih sering dipakai, sedangkan makna kedua sudah hampir tidak dipakai dalam kosakata kita saat ini (ditandai dengan “kl” di dalam kamus). Makna kedua inilah yang dipakai sebagai padanan gadget.

Ada satu kata lain yang didiskusikan padanannya pada utas (thread) diskusi yang sama di milis Bahtera tersebut, yaitu widget. Kata ini dicetuskan oleh George S. Kaufman dalam lakon Beggar on Horseback (1924) dan diduga diturunkan dari kata gadget. Perbedaan makna gadget dan widget di dalam bidang teknologi informasi tampaknya masih menjadi perdebatan dan penggunaan keduanya masih kerap dipertukarkan. Diskusi di milis Bahtera kala itu memaknai widget sebagai gadget yang kecil. Oleh karena itu, muncullah usul untuk menggunakan “gawit” — akronim dari gawai rawit (rawit = kecil) — sebagai padanan widget.

Kata adalah perwujudan konsep yang merupakan konsensus dari para penutur suatu bahasa. Mudah-mudahan usul “gawai” sebagai padanan gadget dan “gawit” sebagai padanan widget ini berterima. Bila tidak, mari kita cari padanan lain.

Satu komentar pada “Gawai

      • Kalau ndak salah di bahasa Jawa kan ada kata “gawe” = kerja “gawean” = kerjaan. Mungkin ndak itu juga berasal dari peruluhan kata “gawai”?

        Apa nanti ndak malah membuat bingung?

        • Bisa jadi. Seperti dijelaskan di atas, kata “gawai” memiliki dua makna (homonim), yaitu kerja/pekerjaan dan alat. Meski berpeluang menimbulkan kebingungan, kita dapat memaknai homonim dalam kebanyakan konteks. Misalkan kalimat “hak saya tinggi” dan “hak saya dirampas”. Makna “hak” pada kalimat pertama cukup jelas sejalan dengan “telapak sepatu bagian tumit”, sedangkan makna “hak” pada kalimat kedua agak meragukan :)

          Namun, keputusan saya serahkan kepada para penutur bahasa Indonesia. Terima kasih sudah memberikan pendapat yang mengingatkan kemungkinan ketaksaan pada kata “gawai”, Mas Cahya.

          • Hmm…, saya rasa hal itu benar juga. Tapi karena saya sejak kecil menemukan “homonim” itu, jadi terasa wajar.

            Tapi belum merasakan kalau homonim yang nanti akan terbentuk di saat dewasa, apa bisa dibiasakan atau tidak.

  1. Kang Ivan, saya ingin mengundang akang untuk berbagi seputar Wikipedia Indonesia di #ubuntu-indonesia @ freenode. Sejalan dengan diadakannya kuliah daring di kanal itu, saat ini warganya makin banyak. Dan cukup sering warga membicarakan soal Bahasa Indonesia (lalu ujung-ujungnya merujuk kepada akang). Kiranya ada waktu, silakan akang singgah kapan saja. Maaf mengganggu.

    NB: rekaman kuliah daring kami bisa akang lihat di http://pastebin.com/u/Malsasa.

  2. Pingback: Gigi Biru | Rubrik Bahasa

  3. Pingback: Kamu Bilang Bahasa Indonesia Miskin Kosakata? Sudah Tahu Kata-Kata Ini, Belum? - Hipwee

  4. Pingback: 18 Kata dalam Bahasa Indonesia yang Membuktikan Bahwa Bahasa Kita Sebenarnya Kaya! | SAY LAMPUNG

Tinggalkan Balasan ke Ivan Lanin Batalkan balasan