Kami

Salah satu kata yang tampaknya mulai dilupakan oleh para penutur Indonesia kiwari ialah “kami“. Pamor “kami” memudar lantaran sering digantikan oleh kata “kita“, terutama dalam ragam percakapan. Walaupun sama-sama merupakan kata ganti (pronomina) orang pertama jamak, “kita” dan “kami” memiliki perbedaan makna: “kita” menyertakan lawan bicara (saya dan yang lain, termasuk kamu), sedangkan “kami” TIDAK menyertakan lawan bicara (saya dan yang lain, tetapi tidak termasuk kamu). Ilustrasi pada gambar terlampir dapat memperjelas perbedaan kedua konsep tersebut.

Sudah banyak tulisan yang membahas kerancuan penggunaan kata “kita” dan “kami” ini, antara lain dari Agus Sri Danarta dan Agus R. Sarjono. Fuad Hassan, mantan Mendikbud kita, bahkan secara khusus membahas tentang kedua kata ini dalam disertasinya yang kemudian diterbitkan menjadi buku, Kita dan Kami: Suatu Analisa tentang Modus Dasar Kebersamaan (Penerbit Bulan Bintang, 1974). Namun, tetap saja saya mendengar rekan kantor saya berkata, “Kita mau makan keluar. Bapak mau titip makanan apa?” Jadi, saya diajak atau tidak?

Dalam ilmu bahasa, pembedaan kata ganti inklusif “kita” dan eksklusif “kami” ini dikenal dengan istilah clusivity atau klusivitas. Klusivitas galib ditemukan pada bahasa-bahasa yang termasuk di dalam rumpun bahasa Austronesia, termasuk Indonesia, namun tidak pernah ditemukan pada bahasa-bahasa Eropa di luar Kaukasus, seperti bahasa Inggris dengan we-nya dan bahasa Belanda dengan wij-nya. Meskipun mungkin belum semua dimasukkan, daftar di Wikipedia hanya mencantumkan 35 bahasa yang mengenal klusivitas.

Setiap bahasa memiliki keunikan masing-masing. Klusivitas “kita” dan “kami” merupakan salah satu keunikan bahasa Indonesia. Maka, cermatlah dalam menggunakan kedua kata tersebut dan banggalah dengan bahasa kita. Jangan lupakan “kami”.

Tabik!

Gambar asli: Wikimedia Commons

Tinggalkan Balasan