Katastropik

Beberapa hari yang lalu seorang kawan lama saya bertanya tentang kata “katastropik” yang dipakai oleh Tim (Bencana) Katastropik Purba, bagian dari Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana. Penelusuran Google menunjukkan adanya variasi dalam penulisan nama tim ini: ada yang pakai “bencana” dan ada yang tidak. Saya pun tidak berhasil menemukan situs resmi atau dokumen resmi tentang tim ini yang dapat menjadi pegangan tentang bagaimana penulisan nama formal tim ini.

Sesuai pola umum dalam pembentukan istilah bahasa Indonesia, saya duga istilah ini berasal dari bahasa Inggris. Saya menemukan banyak temuan istilah “catastrophic disasters” di internet, namun istilah “ancient catastrophic disasters” tampaknya hanya dipakai oleh tim ini.

Dalam bahasa Inggris, kata “catastrophic” adalah kata sifat turunan dari “catastrophe” yang paling tidak punya dua makna yang cukup berbeda, yaitu (1) titik balik drama dan (2) bencana (besar) mendadak. Kata ini berasal dari kata bahasa Yunani katastrophē “an overturning; a sudden end”. Unsur strophe “to turn” pada kata ini juga dipakai pada kata apostrophe (apostrof, tanda penyingkat). KBBI ternyata telah mencantumkan entri “katastrofe” sebagai berikut:

ka·tas·tro·fe n 1 malapetaka besar yg datang secara tiba-tiba; 2 perubahan cepat dan mendadak pd permukaan bumi; bencana alam; 3 Sas penyelesaian (akhir) suatu drama, terutama drama klasik yg bersifat tragedi

Baik kata “katastrofe” maupun “apostrof” dalam bahasa Indonesia ini tampaknya diserap dari bahasa Belanda, masing-masing dari “catastrofe” dan “apostrof”. Perhatikan perbedaan ejaan kedua kata bahasa tersebut dengan versi bahasa Inggrisnya.

Kembali kepada kata “katastropik” yang (tampaknya) diserap dari kata bahasa Inggris “catastophic”, menurut Pedoman Umum Pembentukan Istilah, gabungan konsonan “ph” dari bahasa asing diserap menjadi “f” (mis. atmosphere > atmosfer), sedangkan akhiran “-ic” bahasa Inggris diserap menjadi “-is” (mis. optimistic > optimistis) atau “-ik” (mis. numericnumerik). Kata “catastrophic” semestinya diserap menjadi “katastrofis” atau “katastrofik”. Seperti yang telah pernah saya bahas, akhiran “-is” biasanya dipakai untuk kata sifat.

Kalau mau pakai kata “bencana”, nama “Tim Bencana Katastrofis Purba” bisa dipakai, dengan catatan bahwa kata “katastrofis” (kata sifat) harus dimasukkan di dalam edisi KBBI berikutnya. Alternatif lain yang lebih singkat dan sudah sesuai dengan ejaan KBBI adalah “Tim Katastrofe Purba”. Toh kata “katastrofe” sudah mengandung makna bencana atau malapetaka. Saya sendiri paling sreg dengan nama yang terakhir, walaupun masih belum paham mengapa ada ketidakkonsistenan antara “apostrof” dan “katastrofe”: mengapa bukan “katastrof”?

Namun, apalah arti sebuah nama? Saya ucapkan selamat bertugas kepada Tim Katastrofe Purba. Semoga penelusuran sejarah dapat membuat kita lebih tanggap menghadapi bencana alam yang belakangan (sangat) kerap menyapa negeri ini.

Sumber gambar: Google Books

Tinggalkan Balasan