Profesionalitas

Melalui Twitter, @AviantyAdil bertanya,

“Bedanya penggunaan profesionalitas dan profesionalisme apa ya pak @ivanlanin? … Saya mempertanyakan krn kebetulan kata profesionalitas baru digunakan presiden.”

Dengan spontan saya menjawab,

-itas serapan dr -ity; -isme dr -ism. Saya tdk menemukan professionality dlm bhs Inggris, jd hrsnya profesionalitas tdk ada.”

Ternyata saya salah. Kata “profesionalitas” tercantum di dalam KBBI daring dengan makna: 1 perihal profesi; keprofesian; 2 kemampuan untuk bertindak secara profesional.

Selengkapnya

Rehat, rihat, dan rahat

Kurang lebih seminggu yang lalu, di milis penerjemah Bahtera dibahas bahwa menurut KBBI–bertentangan dengan penggunaan umum di kalangan masyarakat–ejaan yang baku untuk kata sinonim “istirahat” adalah “rihat”, bukan “rehat”. Ketidaksesuaian antara ejaan populer dengan ejaan baku dalam bahasa Indonesia memang kerap terjadi, misalnya “antri” (populer) vs “antre” (baku), “apotik” (populer) vs “apotek” (baku), dll. Sewaktu saya periksa di KBBI daring dan Kateglo, entri “rehat” memang betul dirujuk kepada entri “rihat”. Saya pun mengicaukan hal ini melalui Twitter dengan tagar #variasiejaan.

Tanggapan Mas @QarisT membuat saya rambang. “Jangan-jangan KBBI IV sudah mengubah ejaan yang baku,” demikian senandika saya. Kegalauan ini ternyata terbukti. KBBI IV merujukkan “rihat” kepada “rehat” yang berarti bahwa kini ejaan yang baku adalah “rehat”. Saya pun lintang pukang memperbaiki entri Kateglo sambil memendam perasaan berdosa karena salah memberi warta kepada khalayak. Mohon ampuni saya. Lain kali saya akan selalu memeriksa silang ejaan dengan KBBI yang terbaru.

Selengkapnya

Katastropik

Beberapa hari yang lalu seorang kawan lama saya bertanya tentang kata “katastropik” yang dipakai oleh Tim (Bencana) Katastropik Purba, bagian dari Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana. Penelusuran Google menunjukkan adanya variasi dalam penulisan nama tim ini: ada yang pakai “bencana” dan ada yang tidak. Saya pun tidak berhasil menemukan situs resmi atau dokumen resmi tentang tim ini yang dapat menjadi pegangan tentang bagaimana penulisan nama formal tim ini.

Sesuai pola umum dalam pembentukan istilah bahasa Indonesia, saya duga istilah ini berasal dari bahasa Inggris. Saya menemukan banyak temuan istilah “catastrophic disasters” di internet, namun istilah “ancient catastrophic disasters” tampaknya hanya dipakai oleh tim ini.

Selengkapnya

Pun

Salah satu hal yang paling membuat saya frustrasi dari bahasa Indonesia adalah ketiadaan pola kata mana yang ditulis serangkai dengan partikel pun. Seperti kita ketahui, partikel ini memiliki beberapa makna, a.l. juga (mis. saya pun pergi), meski (mis. mahal pun akan kubeli), dan saja (mis. berdiri pun tidak dapat). Pedoman EyD terbaru (2009) menyatakan bahwa:

partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya, kecuali pada gabungan yang lazim dianggap padu yang ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.

Selengkapnya

Jika, maka

Sebagai pemrogram komputer, saya sangat familier dengan pasangan if-then, yang dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan menjadi pasangan jika-maka. Pasangan ini merupakan salah satu dari pernyataan bersyarat (conditional statement) yang dipakai oleh bahasa pemrograman untuk mengatur alur logika program. Sebagai pasangan, keduanya tentu saja harus ditulis bersama, meskipun ada beberapa bahasa pemrograman yang menghilangkan pernyataan eksplisit then dalam kode programnya.

Dalam bahasa Indonesia, kata jika dan maka adalah kata sambung, atau konjungsi, yang dipakai untuk menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat pada kalimat majemuk bertingkat. Pada kalimat jenis ini, anak kalimat berisi gagasan penjelas dan didahului oleh kata sambung, sedangkan induk kalimat berisi gagasan utama tanpa didahului oleh kata sambung. Pasangan jikamaka tidak boleh digunakan sekaligus dalam satu kalimat majemuk bertingkat. Kaidah “pencerai” pasangan ini secara umum dapat dinyatakan sebagai berikut:

Jangan gunakan dua kata sambung sekaligus dalam kalimat majemuk bertingkat karena akan menimbulkan ketaksaan gagasan.

Selengkapnya