Kedirekturan

KedirekturanTadi pagi (10 Juli 2014) saya mendengarkan acara “The Captain” di Brava Radio yang menampilkan pembicara Ronny A. Iskandar, Direktur Utama Asuransi Takaful Keluarga. Menarik mendengar sudut pandang beliau tentang peran direktur. Menurut beliau, direktur perlu memberdayakan para stafnya dengan, antara lain, menyediakan “panggung-panggung” kecil tempat para staf ini dapat belajar tampil sebagai pemimpin. Para staf perlu diberikan keleluasaan untuk menentukan sendiri cara melakukan suatu tugas agar mereka dapat berbangga terhadap keberhasilan yang mereka capai. Peran direktur adalah menentukan sasaran yang ingin dicapai pada saat awal serta memberikan arahan yang tidak mendikte selama pelaksanaan pekerjaan.

Arahan. Pada awalnya, kata ini sulit saya pahami. Entah mengapa, saya menangkap makna konotatif yang negatif dari kata ini. Bagai kerbau dicocok hidung. Kata ini saya maknai dengan kesewenang-wenangan dari sisi pemberi dan ketidakkreatifan dari sisi penerima. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, saya menyadari bahwa kata ini memang diperlukan dan tidak bermakna negatif. Kata inilah yang membedakan direktur dengan manajer: direktur mengarahkan, manajer mengelola.

Ibarat bahtera, direktur adalah nakhoda, sedangkan manajer adalah mualim. Nakhoda mengarahkan haluan bahtera, sedangkan mualim mengelola para kelasi dalam melakukan berbagai tugas pelayaran. Baik nakhoda maupun mualim dituntut untuk memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih dibandingkan para kelasi.

Pada perusahaan konsultan manajemen saya yang kecil, saya menempatkan diri sebagai dokter yang (harus) siap dengan berbagai resep mujarab, mulai dari mencari bug dalam program, menyusun kertas kerja proyek, membuat laporan pajak, hingga mendengar keluhan dan memberi motivasi kepada para staf. Keterampilan utama yang terasa sangat meningkat selama beberapa bulan ini adalah kemampuan mendengar dan kesabaran.

Salah satu dorongan terbesar yang harus ditahan adalah keinginan untuk turun tangan langsung. Sebagai orang teknis, hal ini berat saya lakukan. Saya harus berulang-ulang mengingatkan diri bahwa hal ini akan mengurangi makna proses pemberdayaan yang menjadi tugas saya. Saya sangat sepakat dengan gagasan Pak Ronny tentang kedirekturan (directorship).

Satu komentar pada “Kedirekturan

Tinggalkan Balasan ke Kev d'Salvo Batalkan balasan