Kepo

Gambar: lidahibu.com

“Jangan kepo, ah.” Kata kepo pertama kali saya (curi) dengar beberapa bulan yang lalu dari percakapan di meja sebelah saya – yang penuh oleh mahasiswa LSPR – saat sedang makan di restoran dekat kantor. Meskipun tidak tahu makna sebenarnya, dari konteks pembicaraan mereka saya menebak bahwa kalimat itu kurang lebih berarti, “Jangan ingin tahu urusan orang lain, ah.” Lumayan, bertambah satu kosakata bahasa gaul saya.

Dua hari yang lalu saya menanyakan makna dan asal kata kepo kepada khalayak Twitter. Dari berbagai tanggapan yang masuk, tampaknya tebakan saya tentang makna kata ini cukup betul. Penjelasan tentang asal kata kepo beragam, tetapi sebagian besar mengatakan bahwa kata ini berasal dari bahasa atau dialek Hokkian atau Min Nan. Tanggapan dari @sfahmism mengantarkan saya ke tulisan Aussie Pete, SINGLISH – A Language Guide for Foreigners, yang mencantumkan:

Kay poh (or Kaypo) Chinese origins (written as 雞婆 in Chinese) . Refers to a person that is nosey parker or busybody. Eg ‘Eh, Don’t be so kaypoh leh!’. Sometimes abbreviated as “KPO”.

Oh, ternyata itu toh asal kata kepo ini.

Eh, tapi masa, sih, kita tidak punya kosakata sendiri untuk menggambarkan sifat “ingin tahu urusan orang lain”? Sebelum tahu kata kepo, biasanya saya menggunakan kata icam (akronim dari ikut campur) atau rese dalam ragam percakapan. Kata usil biasa dipakai dalam ragam yang lebih formal. Kata-kata tersebut memang lebih bermakna ikut campur langsung ketimbang sekadar ingin tahu, meskipun “ingin tahu” adalah bagian (makna yang lebih sempit) dari “ikut campur”.

Saat membongkar kamus, saya menemukan kata gapil, sinonim usil, yang jarang dipakai. Kata ini bermakna suka mencampuri (mengganggu dsb) urusan orang lain. Karena jarang dipakai, saya pikir kita dapat saja menghidupkan kembali kata ini dengan memberi makna tambahan baru yang cukup sesuai dengan kepo. Tentu saja kita dapat menerima kepo sebagai tambahan kosakata baru, tetapi sayang juga kalau gapil ini tidak kita berdayakan. “Jangan gapil, ah!” Enak juga, kan?

Buku Loan-words in Indonesian and Malay (Jones, 2008) menyatakan bahwa kata gapil berasal dari bahasa Arab ghāfil yang berarti negligent, careless, heedless. Loh, kok makna dalam bahasa asalnya berbeda dengan makna dalam bahasa Indonesianya, ya?

Oh, ya. Betul, @sirarjunaKay Pang itu partai pengemis.

Tinggalkan Balasan