Keterbacaan

KeterbacaanTulisan dibuat untuk dibaca. Namun, tak jarang saya enggan melanjutkan — atau bahkan berhenti — membaca karena tulisan tersebut sulit dipahami. Saya maklum bila kesulitan itu muncul karena topik yang dibahas memang pelik. Sayangnya, sering kali kesulitan tersebut muncul karena berbagai faktor lain. Inilah yang membuat saya tertarik dengan topik keterbacaan atau readability: apa yang perlu dilakukan guna memudahkan orang membaca tulisan kita?

NIACE (National Institute of Adult Continuing Education) — organisasi nirlaba yang berbasis di Inggris dan bertujuan untuk mempromosikan pendidikan orang dewasa — memberikan beberapa kiat untuk meningkatkan keterbacaan tulisan. Kiat-kiat ini dicantumkan dalam PDF (dalam bahasa Inggris) yang dapat diunduh dari situs mereka. Dokumen NIACE ini menyebut 9 aspek yang harus diperhatikan guna meningkatkan keterbacaan tulisan. Berikut ini ringkasan tulisan tersebut dalam bahasa Indonesia disertai dengan beberapa catatan tambahan dari saya.

1. Panjang kalimat

Semakin panjang kalimat, semakin sulit orang memahaminya. Usahakan untuk memecah kalimat panjang menjadi beberapa kalimat lebih pendek yang terdiri dari satu atau dua klausa. Sebagai patokan kasar, saya mempertimbangkan untuk memecah kalimat saat panjang kalimat tersebut melebihi dua baris.

2. Pilihan kata

Upayakan untuk memilih kata yang mudah dipahami, meskipun kadang hal ini tidak dapat diterapkan pada tulisan teknis. Secara umum, kalimat dengan kata kerja aktif lebih mudah dipahami daripada kalimat dengan kata kerja pasif. Frasa kata benda atau kata sifat kompleks — seperti “Drama negosiasi pembebasan sandera Timur Tengah — lebih sulit dipahami.

3. Ruang kosong (white space)

Beri ruang kosong yang cukup di antara bagian-bagian teks, seperti jarak antarparagraf, tepi (margin) halaman, dan ruang antarkolom.

4. Jarak baris (line spacing)

Besarnya tergantung besar huruf. Untuk huruf 12pt, NIACE menganjurkan jarak antarbaris 2pt. Saya biasanya memberi jarak 3pt.

5. Pilihan dan ukuran huruf

Perdebatan huruf mana yang lebih mudah dibaca antara serif (seperti Times New Roman) dan sans-serif (seperti Arial) tidak akan pernah usai. Yang penting, pilih jenis yang dapat membedakan dengan jelas huruf yang tampak mirip (misalnya “rn” dan “m”). Huruf yang dianjurkan oleh NIACE adalah Century Schoolbook dan Plantin untuk jenis serif serta Helvetica dan Arial untuk jenis sans-serif. Saya memakai Garamond untuk serif dan Calibri untuk sans-serif dengan ukuran 12pt.

6. Kapitalisasi

Kombinasi huruf besar dan kecil meningkatkan keterbacaan. Gunakan huruf tebal, alih-alih huruf besar, semua untuk penekanan. Selain huruf tebal, saya biasanya menggunakan huruf miring untuk ini.

7. Ilustrasi

Gambar atau foto mengurangi kepadatan teks sehingga meningkatkan keterbacaan. Pilih ilustrasi yang sesuai dengan isi teks agar memberi gambaran konten dan letakkan pada bagian akhir (atau awal) paragraf atau kalimat.

8. Tata letak

Judul atau bagian baru idealnya diletakkan pada bagian atas halaman. Usahakan agar kalimat atau paragraf tidak terputus oleh kolom atau halaman.

9. Jenis dan warna kertas

Kertas yang digunakan harus cukup tebal agar bayangan teks pada halaman selanjutnya tidak tampak. Warna kertas gelap, terutama biru dan ungu, mengurangi keterbacaan. Namun, warna kertas putih polos menyulitkan pembacaan pada penyandang disleksia. NIACE menganjurkan penggunaan kertas warna krim, putih pucat (off-white), atau pastel bila diperlukan.

Penutup

Sebagai penulis, kita tentu ingin tulisan kita dibaca (dan dipahami) orang banyak. Untuk itu, kita harus memastikan keterbacaan tulisan kita. Mudah-mudahan beberapa kiat dari NIACE di atas bermanfaat bagi kita.

Satu komentar pada “Keterbacaan

Tinggalkan Balasan ke Muhammad Lutfi Hakim Batalkan balasan