Khalayak Bahasa

tanja bahasaMengapa Anda harus diawali dengan huruf kapital? Kapan pun ditulis serangkai? Mengapa p pada mempunyai dan k pada mengkaji tidak luluh? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menghantui benak saya saat kembali mempelajari bahasa Indonesia. Ternyata, bukan saya saja yang mempertanyakan berbagai hal seputar kebahasaan tersebut. Rekan-rekan di Twitter pun kerap menanyakan hal  serupa berulang-ulang. Hal itulah yang mendorong lahirnya Tanja Bahasa (TB) pada awal tahun 2012.

Tanja Bahasa merupakan pendokumentasian jawaban terhadap pertanyaan tentang bahasa Indonesia yang sering diajukan para penutur. Judul artikel di sana sengaja ditulis dalam bentuk pertanyaan agar mudah ditemukan. Tiap pertanyaan diupayakan dibahas dengan logika dan rujukan dan bukan sekadar dogma “pokoknya …”. Saya percaya bahwa pasti ada penjelasan atas tiap gejala bahasa. Kita saja yang mungkin belum mampu menemukan penjelasan tersebut.

Seiring dengan semakin populernya konsep urun daya (crowdsourcing), saya berencana untuk mengistirahatkan Tanja Bahasa. Situs itu hanya mengandalkan saya sebagai penulis, walaupun komentar-komentar yang masuk dapat digunakan sebagai tambahan rujukan untuk tiap pertanyaan. Padahal, da aku mah apa, atuh? Banyak bahasawan lain yang lebih memahami kaidah bahasa Indonesia dan dapat menjadi narasumber yang baik untuk menjawab pertanyaan kebahasaan. Saya hanya lebih nyinyir daripada mereka.

Oleh sebab itu, prakarsa Khalayak Bahasa (KB) pun lahir. Situs ini mengambil model dari Stack Exchange, tepatnya Stack Overflow, yang sering saya pakai untuk mencari jawaban pertanyaan pemrograman. Aplikasi yang dipakai untuk mendukung Khalayak Bahasa adalah Question2Answer dengan ditambah beberapa pengaya yang sesuai dengan kebutuhan.  KB pernah diinisiasi pada akhir 2012 dengan nama Tanja Khalayak, tetapi saat itu saya masih belum mantap untuk menggunaan model urun daya. Kini saya sudah yakin.

Semoga bermanfaat.

 

Satu komentar pada “Khalayak Bahasa

Tinggalkan Balasan ke Ezri Batalkan balasan