Ngobrol

Saya terpesona dengan film Before Midnight. Film romantis yang dirilis pada awal tahun 2013 di Festival Film Sundance ini membuat saya terpaku sepanjang film. Padahal, sebagian besar film ini hanya diisi dengan dialog antara dua tokoh utamanya, Jesse (Ethan Hawke) dan Céline (Julie Delpy). Pengambilan gambarnya pun hanya dilakukan dalam waktu 15 hari dan dengan biaya kurang dari 3 juta dolar AS.

Waktu dan biaya pembuatan film ini mungkin lebih sedikit daripada film 99 Cahaya di Langit Eropa (99 Cahaya) yang saya tonton beberapa minggu sebelumnya. Meski sama-sama mengambil lokasi di Eropa — 99 Cahaya di Wina, Paris, dan beberapa tempat lain, sedangkan Before Midnight di Peloponnese, Yunani — saya kurang sependapat dengan Pak SBY dan tidak merasakan pesona yang sama dari film 99 Cahaya. Saya bukan pengamat film, tapi saya merasa kualitas olah peran, penyuntingan, dan musik film menjadi faktor pembeda utama di antara kedua film ini.

Daya tarik utama dari Before Midnight adalah dialognya. Mungkin karena mengobrol bukan keahlian saya, kemampuan kedua pemeran utama film ini untuk berdialog dengan lama dan dalam sangat memesona saya. Topik yang didiskusikan sederhana: tentang hubungan, keresahan, dan harapan mereka. Namun, bahan bersahaja ini dapat dibahas dengan sangat manusiawi dan alamiah. Ya, emosi muncul, tapi pada akhirnya mereka menunjukkan keindahan cinta dengan elok. Dari film ini saya diingatkan bahwa sebesar apa pun perbedaan pendapat di antara dua kekasih, kesabaran dan kepercayaan niscaya dapat mengatasi jurang tersebut.

Ngobrol tanpa emosi dan prasangka. Itu kearifan yang dapat saya petik dari Before Midnight. Mudah diucapkan; sulit diwujudkan.

Satu komentar pada “Ngobrol

  1. Mas Ivan,

    Terima kasih sharingnya tentang film ini. Saya penggemar film, meskipun juga tidak bisa dibilang pengamat film (biasanya nonton film kalau sudah setahun muncul :D). Tapi kebetulan penggemar “trilogi before,” mulai Before Sunrise (94), Before Sunset (2004) dan Before Midnight (2013). Kekuatan trilogi before ini menurut banyak orang memang di dialognya. Kita bisa temukan dialog dalam berbagai setting dan aksi, mulai dialog di ruang coba piringan hitam sampai sambil jalan membelah taman, mulai dialog mau senggama di taman sampai dialog nggak jadi senggama di kamar hotel.

    Dalam film pertama (yg saya tonton saat masih kuliah), saya sangat terpesona dengan romantisme sederhana dan gairah mudah yg seperti selalu ingin meraih bulan dalam segala hal. Dalam film kedua, yg kuat sepertinya adalah kesuraman hubungan rumah tangga yang tidak bahagia. Film kedua ini mungkin yg paling lemah dalam hal cerita, tapi kualitas akting mereka bertambah mengasyikkan untuk ditonton (saya ingat sekali raut muka Celine dan Jesse saat menaiki tangga menuju apartemen Celine di Paris sambil menggendong kucing Celine yg bernama “Che,” lihat deh!). Nah, untuk film yang ketiga ini, saya menonton sebagai seorang suami yg masih ingin meraih mimpi, bapak dengan anak berusia 7 tahun, dan seorang yg setengah mati ingin mengamalkan cita-cita feminisme, permasalahan yg diperbincangkan antara Jesse dan Celine (terutama yg di kamar hotel itu) benar-benar seperti reminder yg tidak akan pernah saya lupakan. Seperti apa posisi seorang istri? Seperti apa semestinya suami memposisikan dirinya? Seperti apa seorang suami memandang cita-citanya? Ah, penulis film ini, menurut saya, sungguh sangat sensitif dan sangat kukuh mengusung tema yg mungkin tidak akan habis jadi bahan perbincangan selama arah dunia masih didominasi laki-laki sementara energinya berasal dari laki-laki dan perempuan.

    Sementara begitu, saya harus nyiapkan makan malam anak saya–ibunya kerja kalau sore hari. :D

    Salaam,

  2. Pingback: Seuprit Tentang Before Midnight dan Before2 yang Lain | Timbalaning

  3. Tapi koq saya agak bosen sama filem before (apa… gitu saya lupa), karena cuman ngobrol doang. Atau karena memang saya bukan tipe yang suka filem berdialog panjang ya?

  4. idem dengan mas Wawan, kamu harus melihat 2 film sebelumnya, van.

    Baru sadar bahwa setiap film terpisah 10 tahun… ini trilogi yang paling “beda” dari yang lain menurut saya.

    Saya baru melihat 2 film yang pertama (dalam waktu yang hampir bersamaan), dan jadi kepingin nonton yang ketiga setelah baca blogmu…

    Film berbujet rendah, tapi bernilai artistik tinggi… perpaduan klop antara skrip Hollywood yang kuat dan romantisme film-film Perancis. Yang paling aku suka terutama “single-shoot take”-nya yang membuat dialognya benar-benar terasa hidup dan kedua pemainnya menjiwai peran mereka yang terpisah waktu puluhan tahun.

Tinggalkan Balasan