Seminar Imajiner Soempah Pemoeda

Sumber gambar: Wikipedia

Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda, Iman Brotoseno telah menyelenggarakan “Seminar Imajiner Soempah Pemoeda” di Ruang Kicauan, Gedung Dunia Maya selama empat jam antara pukul 9.20 hingga 13.25 WIB. Demi memenuhi ketentuan UU ITE tentang keterbukaan informasi mempermudah orang untuk membacanya, berikut ini transkrip seminar bertagar #pemoeda tersebut, yang tersusun dari 162 kicauan @imanbr. Beberapa tambahan dan perbaikan kecil pada format dan ejaan telah dilakukan terhadap naskah tanpa mengurangi gaya bahasa asli. Semoga berkenan dan selamat menikmati. Oh, ya. Seminar ini pun telah didokumentasikan di Chirpstory.

Catatan: “Saya” adalah moderator dan penggagas seminar, Iman Brotoseno.

Saya: Baiklah, berhubung seluruh kursi sdh penuh, saya akan membuka Seminar Imajiner Soempah Pemuda, saya akan perkenalkan para panelis. Telah datang di depan saya Bung Hatta, Moh Yamin, Haji Agus Salim, Sutan Takdir Alisyahbana, Chairil Anwar, Ki Hajar Dewantara. Hadir tokoh mahasiswa Soe Hok Gie, Elang Mulya Lesmana. Maaf Bung Karno tidak hadir, mimpin upacara peringatan serupa di swargaloka.

Saya: Silahkan Bung Hatta. (Saya menyambut proklamator yang sudah sepuh.) Bagaimana kabar Bung Karno dan Bung Syahrir di sana?

Bung Hatta: Nak Iman, salam dari bapakmu, Bung Karno. Dia sudah sering kongkow bareng Syahrir. Masalah tragedi Prapat sudah lewat.

Saya: Jadi menurut Bung Hatta, Sumpah Pemuda ini? (Saya langsung bertanya, sambil sekilas melihat para Indonesianis bule yg hadir.)

Bung Hatta: Sumpah Pemuda yang 28 Oktober 1928 itu merupakan sumpah yang diperlukan oleh pemerintah orde lama atau orde baru. (Bung Hatta mendekatkan mic-nya.) Betul. Para rezim butuh itu untuk dukung retorika yg mengandalkan persatuan dan kesatuan.

Bung Hatta: Kamu tahu… Th 1925, Manifesto Politik yg dikeluarkan Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda, itu lebih penting. Ketika para pemuda di Jawa baru membentuk organisasi kedaerahan, Jong Java, Jong Celebes, dll. Kami sudah berpikir skala nasional. Di negeri Belanda kami sudah mendirikan Perhimpunan Indonesia, bahkan kami berani menerbitkan majalah “Indonesia Merdeka”. Majalah ini beredar juga di kalangan pemimpin pemuda di tanah Jawa. Ini yg mendorong mereka untuk semakin bersatu.

Saya: Sebentar Pak Yamin. (Saya memotong Moh Yamin yg tampaknya tak sabar utk bicara.) Menarik nih Bung, apa isi Manifesto 1925 itu?

Bung Hatta: Manifesto politik 1925 itu berisi: 1) Rakyat Indonesia sewajarnya diperintah oleh Pemerintah yg dipilih mereka sendiri; 2) Dalam memperjuangkan pemerintahan sendiri, tidak diperlukan bantuan dari pihak mana pun (Bung Hatta mereguk air putih sebentar); 3) Tanpa persatuan kokoh dari berbagai unsur rakyat, tujuan perjuangan itu sulit dicapai. Demikian 3 poin Manifesto 1925. Dalam konsep pernyataan itu terdapat konsep nasion Indonesia, demokrasi, unitarianisme, otonomi, dan kemerdekaan.

Tepuk tangan bergemuruh di seluruh ruangan, mendengarkan paparan Manifesto 1925. Terdengar suit2 siulan rombongan mahasiswa Trisakti.

Saya: Baiklah. Silahkan Pak Yamin untuk cerita2. Jadi benar rumusan ketiga, bunyinya ‘menjoenjoeng bahasa persatoean’ bukan mengaku.

Moh Yamin: Kongres Pemuda I dilakukan tahun 1926, dulu menyusun ikrar pemuda yg bunyinya hampir sama dg Sumpah Pemuda. Perbedaannya hanya pd sila ketiga yakni, “Kami Poetra dan Poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Melajoe”. Usulan sy diterima Sanusi Pane yg bilang bhs persatuan itu bhs Indonesia, baru 2 thn kmdn istilah Melayoe diubah Indonesia.

Saya menambahkan: Wah .. Yang menarik memang tidak ada penolakan dari etnis Jawa, sebagai etnis mayoritas. Betul Pak?

Moh Yamin: Tidak secara terbuka, umumnya peserta Kongres lebih fasih berbahasa Belanda, mereka menerima pemakaian bhs Indonesia.

Saya: Pak Yamin, tahun 1920 pada usia 17 tahun, Anda sdh promosi pentingnya bahasa Melayu sbg bahasa persatuan orang Sumatera. Hebat sekali. Pemikiran Pak Yamin melampui zaman utk usia muda. (Tiba2 saya teringat Aurel yg 13 th tp begitu problematik hidupnya.)

Moh Yamin: Di Kongres Pemuda thn 1926 saya sampaikan pentingnya bahasa Melayu yg bisa diadopsi sebagai bahasa persatuan. Kebalikan dalam Kongres 1928, keputusan memakai bahasa Melayu atau Indonesia sebagai bahasa pengantar, membuat banyak yang bingung. Bahkan banyak pemimpin kongres yg pidato dalam bahasa Indonesia, malah kelihatan tidak mampu berbahasa Indonesia dengan baik.

Saya: Jadi sebenarnya pada waktu Kongres Pemuda itu, sebagian besar peserta memang belum bisa berbahasa Indonesia?

Moh Yamin: Masih gagap memakai bhs Indonesia. Tapi menariknya, bahwa sebagian besar peserta tertarik menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan ketika Ny. Purnomo Wulan berbicara dalam bahasa Belanda tentang pendidikan dan lingkungan rumah untuk anak-anak, ia menawarkan apakah pidato ini perlu diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Anehnya semua minta diterjemahkan ke dalam bhs Indonesia. Mereka berteriak minta diterjemahkan ke bhs Indonesia. Jadilah saya maju untuk menterjemahkan. (Kata Moh Yamin mengakhiri bicaranya.)

Suara gemuruh, ketika Soe Hok Gie naik ke panggung. Saya tertegun, melihat aktivis yg bola matanya puitis tak segarang sikapnya.

Sok Hok Gie: Dik Iman, Persoalannya bukan mana lebih penting. Sumpah Pemuda 1928 atau Manifesto Politik 1925. Sumpah Pemuda memang simbol yang diperlukan, namun melenceng. Persatuan dan kesatuan menjadi obsesi Soekarno ke Soeharto.

Sok Hok Gie: Jadinya retorika. Penyebab kerancuannya karena konsep persatuan dianggap sebagai gagasan yg berdiri sendiri. Kalau tdk salah Manifesto Politik 1925, persatuan (unity) dijalankan bersama2 dg konsep kemerdekaan (liberty) & persamaan (egality). Ketiganya saling melengkapi. Tidak cukup persatuan, tapi saat yg sama harus ada persamaan atau kesataraan. Betul khan Bung Hatta? Demikian pula persatuan dan kesetaraan hanya akan tercapai dalam suasana merdeka… Ini juga betul khan Bung Hatta? (Desak Gie.)

Bung Hatta: Bahkan sejak tahun 1925 Perhimpunan Indonesia sudah mempunyai 4 pokok perjuangan: 1) persatuan nasional mengesampingkan perbedaan berdasarkan daerah dan membentuk kesatuan aksi; 2) solidaritas; 3) non kooperasi. Kemerdekaan hrs direbut; 4) swadaya, mengandalkan kekuatan sendiri dalam kehidupan nasional. Jangan salah para anggota Perhimpunan Indonesia sudah menggambarkan keragaman suku dan etnis juga. (Bung Hatta semakin semangat.)

Haji Agus Salim lalu menyeletuk: Masalah swadaya ini berdiri di kaki sendiri, bakal jadi problem besar bangsa ini skrg dan ke depan. Percaya tidak. Saya mengajarkan anak2 sendiri. Berhitung, membaca, sejarah, sastra. Anak saya Dolly umur 6 th sdh bisa bhs Inggris.

Soe Hok Gie: Kita jgn latah istilah persatuan & kesatuan, seperti TVRI. Cukup satu kata saja. Persatuan. Kesatuan seperti ABRI saja. Slogan persatuan & kesatuan itu kontradiktif. Persatuan dianalogikan seperti sapu lidi. Meskipun diikat unsur lidi tetap kelihatan. Sementara kesatuan, sudah seperti kopi susu. Unsur unsurnya larut menjadi satu. (Soe Hok Gie menjelaskan lagi.)

Moh Yamin: Ya saya jg usulkan negara kesatuan, Sebelum sidang BPUPKI saya sempat membisikan kepada Bung Karno. Lha dia kok sama.

Ki Hajar Dewantara: Dalam Polemik Kebudayaan 1930-an, saya usul kebudayaan nasional jadi ‘puncak puncak’ kebudayaan daerah. Artinya kebudayaan daerah tetap diakui eksistensinya. Sementara Bung Karno beranggapan kalau kebangsaan Indonesia yang bulat itu. Bukan kebangsaan Jawa, bukan Borneo, Sunda, Sumatera, tapi kebangsaan Indonesia yang bersama sama menjadi dasar satu nationale staat.

Saya lihat seorang Indonesianis, Keith Foulcher yg hadir meminta izin bicara.

Saya: Silahkan Mister, masih capai journey dari Australi?

Keith Foulcher: Dari dulu Orla, lurah, kepala sekolah sampai orba selalu menggunakan teks Sumpah Pemuda yang bukan orisinal 1928. Saya dulu pernah ngopi ngopi sama kawan JJ Rizal, Iskandar Nugraha di Depok tahun 2000 atau berapa itu, ngobrol. Kata yang dipakai para pemuda untuk menyatakan ide besar sebuah Indonesia dimulai dengan penggunaan bahasa nasional. Saya pernah menulis dulu, bahwa penekanan pada kata kata yg orisinal berarti Sumpah Pemuda mengakui perbedaan perbedaan. Ini tantangan, bagaimana mengakomodasi sekaligus melestarikan keragaman namun tidak melemahkan basis persatuan dari sebuah negara.

Haji Agus Salim: Sepele kelihatannya, tetapi pemuda saat itu tdk bermaksud membuat Indonesia aku & menghapus kemajemukan mereka. Para pemuda yang datang ke Kongres Pemuda waktu itu, lebih direpresentasikan sebagai kaum terpelajar, the haves. Mereka para student yang pergi dari tanah Jawa, Celebes, Ambon, Sumatera. Semuanya datang untuk berikrar bukan bersumpah.

Bung Hatta: Tahun 1958, pemerintah resmi mengangkat Sumpah Pemuda sebagai momen kebangsaan yang harus diperingati seluruh negeri. Rongrongan separatisme, pemberontakan di sana sini membuat perlu sebuah bungkus persatuan. Yamin juga tdk keberatan teks diubah. Diubah redaksinya di sana sini. Yang lebih penting ditambahkan kata Sumpah. Sukarno membutuhkan simbol pemersatu. Dogma-dogma baru.

Moh Yamin ditembak Bung Hatta, hanya senyum2 penuh arti. Saya mempersilahkan martir reformasi, Elang Mulya Lesmana angkat bicara.

Elang Mulya: Ini diteruskan oleh rezim orde baru yang begitu sakralnya menjadikan Sumpah Pemuda sebagai hal yang sakral. Presiden Habibie secara terbuka menyanggah bahwa Sumpah Pemuda tidak menghapus kemajemukan Indonesia. Sudah semestinya negeri tidak memberangus keanekaragaman atas nama persatuan. Bukankah mestinya begitu, jadi saya mati tidak sia sia?

Kata-kata Elang Mulya Lesmana begitu menyodok. Tampak intel-intel tentara yg berkeliaran di arena seminar jd pucat pasi.

Elang Mulya: Orang Indonesia suka bersumpah. Dari sumpah pemuda, sumpah cinta, sumpah jabatan, sumpah perkawinan, sampai sumpah pocong. Ketika kita sampaikan fakta kejadian, lawan bicara tdk perlu menyelidiki lebih dalam, kecuali memastikan. “Sumpeeh Loe”.

Elang Lesmana memberikan analogi baru. Bung Hatta menatap tajam, dan mencoba memahami arti “Sumpeeh loe…”

Soe Hok Gie: Saya dulu minta mendudukan porsi kebenaran sesungguhnya. Orang tidak dilihat dari afiliasinya, golongan, atau agamanya. Tapi dilihat dari kacamata benar atau salah, jujur atau maling, serta mampu atau tidak. Ini tantangan sesungguhnya. Sekarang tantangan keberagaman tidak cuma etnis, tapi bergerak pada keberagaman keyakinan, demokrasi partisipasi politik.

Ki Hajar Dewantara: Perwakilan Pemuda Sumatera, Jawa, berkumpul Oktober 1929 membentuk sebuah organisasi baru. Indonesia Muda. Kongres pertama mereka di Solo tahun 1931. Organisasi mereka justru tidak memasukan bahasa dan kebudayaan dalam piagam mereka. Lihat kalimat …hendak mempersatoekan poetra poetri Indonesia yg berbangsa satoe, bertoempah darah satoe & semangat yang satoe.

Saya melirik jam: Wah menarik ini, bahwa para pemuda menolak bahwa mereka mempunyai ‘satu bahasa’. Kongres Bahasa Indonesia I tahun 1938 di Solo. Walau merujuk pd tata cara berbahasa, dihadiri Bung Amir Syarifudin yg pidato. Yang menarik di sini, hadirnya Tabrani. Dia membacakan makalah yang mendorong penyebarluasan bahasa Indonesia. Dia memberikan argumen bahasa Indonesia tidak bertentangan dengan bahasa bahasa lokal, tapi justru merepresentasikan sumpah kita.

Moh Yamin: Saya berpidato dalam Kongres Bahasa itu, tentang “Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatoean dan bahasa keboedayaan”. Sejak saat itu saya dan Moh Tabrani mengarahkan pemakaian bahasa persatuan ke dalam fase fase berikut perjalanan bangsa ini.

Saya tanya ke Bung Hatta: Th 1949 dilakukan lagi Kongres Pemuda di antara bayang2 negara federal bikinan Belanda & negara kesatuan.

Bung Hatta: Betul, Salah satu resolusi menghasilkan ‘ semboyan perjuangan ‘, itu mirip mirip Sumpah Pemuda juga dari esensinya. Isinya: 1 bangsa. Bangsa Indonesia. Satu bahasa, bhs Indonesia.Satu tanah air, tanah air Indonesia. Satu negara. Negara Indonesia. Mulai tahun 1956, Bung Karno memakai Sumpah Pemuda sebagai senjata ideologi atas perlawanan terhadap separatism dan pemberontakan. Dalam pidato Hari Sumpah Pemuda tahun 1957, Bung Karno lagi-lagi berpidato. Siapa hidupkan kedaerahan, tak setia proklamasi. Puncaknya, Hari Sumpah 28 Oktober 1958. Sumpah pemuda telah berkembang menjadi janji suci atas komitmen terhadap negara kesatuan. Bung Karno berpidato, Jika ia Ahmad Husein, Warouw, Simbolon, ia merebahkan ke Allah SWT krn mendurhakai Sumpah Pemuda yg keramat.

Demm.. Keramat. (Elang Mulya Lesmana menyeletuk mendengarkan paparan Bung Hatta.)

Bung Hatta: Selanjutnya Sumpah Pemuda jadi agitasi politik. Dari pembebasan Irian Barat sampai Gayang Malaysia, semua mengacu ke Sumpah Pemuda. Bahkan Pidato Bung Karno pd peringatan Hari Sumpah Pemuda th 1963 bertema “Malaysia akan gugur”.

Saya menyambar: Tapi saya baca koran Merdeka tgl 29 Oktober 1959, dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda. Bung Karno mengaitkan dengan masalah nama bayi. Di sana Bung Karno minta supaya jika memberi nama anak jangan pakai ‘Tje-tje’ lagi.

Bung Hatta: Ah itu khan karena Bung Karno kebangetan, ngurusin nama anak-anak segala. (Hatta menambahkan.) Soeharto juga memakai Sumpah Pemuda sebagai simbol pemersatu. Bahkan pada zamannya dibentuk Kementrian Pemuda.

Soe Hok Gie: Zaman orde lama, Bung Yamin tidak memberi tempat kepada sejarawan lain untuk menjelaskan versi versi Sumpah Pemuda. Masuk akal karena Bung Yamin sebagai juru tulis sejarah rezim yang berkuasa saat itu. (Gie semakin tajam menohok.) Saya mengakui kegigihan para founding father bangsa ini dalam perjuangan. Tapi mereka sudah menciderai perjuangan. Soekarno berkhianat pada kemerdekaan. Yamin memalsukan sejarah. Hatta tak berani menyuarakan kebenaran.

Bung Hatta agak tertegun disindir Soe Hok Gie. Lalu dengan bijak dia berkata: Tidak sesederhana itu Dik Gie. Saya harus taktis. Saya juga harus taktis, melawan hegemoni Soekarno dalam demokrasi terpimpin. Tidak bisa asal frontal.

Saya: Iya, Kakak Bung Gie sendiri, Arief Budiman kadang cemas karena Gie kurang taktis. Terlalu berani. Tapi menyambung hubungan Bung Hatta & Bung Karno memang merupakan drama utama dalam kehidupan politik Bung Hatta. (Saya tambahkan.) Saya ingat, untuk banyak hal, dalam konsepsi dan gaya. Mereka berseberangan. Hatta bisa mencaci & menyerang Sukarno karena kebijakan & tingkah laku politiknya, tapi di kehidupan pribadi, spt saudara kandung.

Moh Yamin membela: Bukan begitu, wajar setiap rezim punya juru tulis sejarahnya. Bukannya Nugroho Notosusanto juga sama pd rezim orba? Lihat bukunya “Proses Perumusan Pancasila Dasar negara” dikatakan Pancasila dirumuskan bersama Bung Karno, Moh Yamin, dan Soepomo. Tgl 1 Juni hari lahir Pancasila versi Bung Karno. Itu khan ngawur. Itu cuma pamflet politik untuk membenarkan posisi Soeharto.

Bung Hatta: Sama saja Bung. Anda juga memalsukan sejarah dalam buku Anda, Naskah Persiapan UUD 1945. Licik, masak pidato saya di depan sidang Badan Penyelidik tidak dimuat. Sampai sekarang naskah pidato saya juga hilang ke mana.

Bung Hatta: Saya rasa Bung Yamin mengaburkan fakta sejarah, dgn memoles rapat penyelidik dan memilih bagian yg menonjolkan posisinya. Beberapa sumber sejarah, catatan Abdoel Karim Pringgodigdo dan Abdul Gaffar Pringgodigdo, ada yang disembunyikan oleh Bung Yamin.

Saya menenangkan seminar yg sepertinya agak melenceng, sekaligus menjawab pertanyaan dari floor tentang jam makan siang.

Soe Hok Gie: Benar Bung Hatta. Saya kurang kompromi, sehingga saya justru kerap dikucilkan oleh kawan2 saya sendiri. Saya setuju Buku Bung Hatta ‘Demokrasi Kita’, sebuah risalah kecil yg memadatkan pelajaran penting tentang demokrasi di negeri ini. Itu yang dilupakan para pemuda pemuda sekarang. Bagaimana menghargai nilai-nilai luhur demokrasi. Jangan maen asal gerudug, jika tidak suka dengan pendapat orang. (Gie nyerocos terus.)

Saya: Wah tambah menarik diskusi ini. Coba bagaimana pendapat Bung Chairil Anwar? (Dia yg terkantuk-kantuk pun jadi bangun. Kaget.)

Chairil Anwar gaya dandy-nya, leher bajunya kaku dikanji saat dicuci kelihatan keras dan setelan bajunya rapi karena disetrika. Chairil Anwar tak tampak seperti yg digambarkan. Lusuh dan berantakan. Ia percaya diri mengambil mic lalu berdiri. Suara menggelora.

Chairil Anwar: Aku lihat peserta seminar ini, para pemuda dengan wajah apatis. Tidak punya cita2, tidak ada jiwa pemberontaknya. Aku saja pernah bilang kepada istriku. Jika umurku panjang, pasti aku akan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Itu karena aku optimis. Sayang usia 27 tahun aku sudah mati, mati muda seperti kawan Gie ini. (Chairil Anwar bertutur.) Tapi aku sudah mengira, maka bilang ke istriku. Kalau usiaku pendek, maka anak2 sekolah akan berziarah ke kuburku menabur bunga.

Saya: Hmm. sampai sekarang tanggal kematian Bung, diam-diam sudah jadi hari sastra nasional kok.

Chairil Anwar: Pemuda zaman sekarang sebenarnya tidak beda jauh dengan zaman Pujangga baru, setelah semangat Sumpah Pemuda. Mendayu-dayu kegalauannya. Saya berontak dari estetika Sutan Takdir Alisyahbana. Kata beta dan sejenisnya saya rombak dengan aku.

Chairil Awar mempesona dg ulasannya. Soe Hok Gie yang bertukar puisi dg Nike Ardilla, berhenti sejenak melihat paparan Chairil.

Chairil Anwar: Lebih tegas & tajam. Kalian tahu ‘aku’ jadi legendaris dlm sajakku. Walau ada yg anggap jenis sajak podium ketimbang sajak kamar.

Elang Sakti: Setuju sajak Chairil Anwar bikin bhs Indonesia jadi lebih vitalitas, cerdas & tdk ruang kosong di antara pilihan kata2. Satu hal yang kemudian teracuni oleh bahasa pejabat pemerintahan yg membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa yang penuh hipokrisi.

Sutan Takdir Alisyahbana: Sebentar Nak Elang. Bung Chairil dulu, dia khan tidak hadir dalam Kongres Bahasa di Solo tahun 1938. Walau karya saya romantika semata. Tapi itu tidak penting. Dalam kongres itu sy lontarkan ide yg dikenal Polemik Kebudayaan. Banyak pemikir eks Sumpah Pemuda yang hadir dalam Kongres Bahasa itu cenderung antagonis, anti intelektualisme dan anti materialisme.

Sutan Takdir meneruskan: Itu reaksi rakyat yg terkungkung feodalisme. Bagi saya sumpah 1 nusa, 1 bangsa & 1 bahasa tidak penting. Saya menawarkan ide besar. Bumantara – dari Bumi Nusantara – yg mempersatukan seluruh kawasan Asia masuk dalam pergaulan dunia. Kita hidup dalam semua kebudayaan. Kebudayaan India, Cina, Eropa, kebudayaan saya sendiri. (Sutan Takdir menjelaskan idenya.) Kita tdk boleh terjebak national interest, ideological interest & religious interest, yg masih membelenggu kita.

Haji Agus Salim: Masalah agama, memang masih jadi salah satu interest yang melekat dalam pergaulan sosial kita. Saya bersyukur dgn keberadaan Jong Islamieten Bond, tapi saya tidak fanatik buta juga. Saya hanya takut superioritas barat saja. Coba lihat itu Pilkada Jakarta. Urusan agama dianggap krusial.. Untung rakyat semakin cerdas. Kata Haji Agus Salim. Adik saya Khaled Salim sendiri Katolik. Saya ditanya seorang jurnalis asing. Zig Salim, itu bagaimana, adik Anda beragama Kristen. Saya jawab bagus itu. Dulu Komunis tidak beragama, sekarang sudah beragama.(Kata Haji Agus Salim bangga.)

Saya: Jadi menurut Pak Sutan Takdir, semangat nasionalisme Sumpah Pemuda sudah tidak relevan lagi dengan zaman sekarang?

Sutan Takdir: Bukan tidak relevan, tapi kita tidak perlu lagi mengagung-agungkan semangat sumpah atau ikrar itu. Saya dijuluki manusia Global, walau saya hidup di zaman itu tahun 30-an, karena pikiran saya mendahului zamannya. Pemikiran itu juga diuji oleh isu-isu federalisme dan separatisme yang bergejolak di negeri ini. (Jelas Sutan Takdir.)

Soe Hok Gie: Jika para deklarator Kongres Pemuda di Jalan Kramat Raya dulu masih hidup, tentu akan kaget. Kalau ikrar pengakuan mereka kelak menjadi sumpah yang tidak pernah bisa terwujud. Negara yang adil dan makmur.

Elang Mulya: Coba bandingkan Sumpah Pemuda dengan sumpah kami zaman menggulingkan rezim orba kemarin:

  • Kami mahasiswa Indonesia mengaku bertanah air satu, tanah air tanpa penindasan.
  • Kami mahasiswa Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa yang gandrung akan keadilan.
  • Kami mahasiswa Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa kebenaran. Setelah membacakan, sambutan gemuruh di seluruh ruangan.

Semua terharu dengan Sumpah pemuda masa kini yang jauh lebih relevan dan menyuarakan suara rakyat. Saya pun menutup Seminar.

Di antara riuh rendah para peserta yg ingin foto bersama dengan panelis, Bung Hatta dan Soe Hok Gie datang ke saya sambil menggerutu: “Gimana nih, masak saya disuruh teken kuitansi kosong buat honor pembicara. Gimana sih EO-nya?” Saya hanya tertegun malu.

— THE END —-

Tinggalkan Balasan