Seni membaca

Menurut ibu saya, saya suka sekali membaca buku sewaktu kecil. Yang saya ingat, bacaan pertama saya adalah buku-buku karangan Enid Blyton seperti seri Lima Sekawan dan Pasukan Mau Tahu. Kesukaan membaca buku fiksi tersebut berlanjut dengan koleksi buku Nick Carter John GrishamMario Puzo, dan berbagai pengarang lain, hingga trilogi The Hunger Games yang baru selesai saya baca sekitar dua minggu yang lalu. Kecepatan saya kala membaca buku fiksi cukup tinggi. Satu buku setebal 500 halaman biasanya dapat saya selesaikan dalam waktu sekitar lima jam.

Selain buku-buku fiksi, saya pun gemar mengoleksi buku nonfiksi, terutama yang terkait dengan linguistik dan sejarah. Sayangnya, kecepatan saya membaca buku nonfiksi tidak sebesar kecepatan membaca buku fiksi. Tak jarang buku yang sudah saya beli tidak saya baca hingga tuntas atau bahkan sama sekali tidak pernah dibaca. Inilah yang membuat saya sangat tertarik kala membaca subjudul “Mengapa 90% Buku yang Dibeli Tidak (Habis) Dibaca” dari buku The Art of Reading (Seni Membaca) karangan Agus Setiawan.

Meski sarat dibumbui promosi teknik Bacakilat sang penulis, buku ini memberi kiat-kiat praktis yang sesuai dengan judul. Intinya sebenarnya adalah bagaimana menumbuhkan motivasi membaca. Setelah membaca buku Bacakilat, saya justru berpendapat bahwa buku The Art of Reading lebih bermanfaat bagi saya. Teknik “kondisi genius” yang dianjurkan pada buku Bacakilat masih terlalu sulit untuk saya terapkan. Mungkin juga karena saya belum terlalu serius mencobanya.

Yang jelas, kedua buku tersebut memberi saya kiat dan motivasi untuk membaca. Beberapa kiat bagus yang saya petik dari kedua buku ini adalah:

  1. Pilih posisi membaca dengan duduk tegak agar melancarkan aliran darah ke otak.
  2. Tentukan tujuan membaca suatu buku dan dapatkan gambaran besar buku dengan melihat daftar isi sebelum mulai membaca.
  3. Jangan paksakan untuk mengerti seluruh isi buku dengan sekali baca.
  4. Ajukan pertanyaan kepada diri sendiri tentang isi buku selama membaca.
  5. Gambarkan isi buku dengan peta pikiran setelah selesai membaca seluruh buku.

Walaupun belum pernah bisa mencapai “kondisi genius”, “pikiran bawah sadar”, dan “1 halaman per detik” yang dituliskan sang pengarang, jumlah buku yang berhasil saya baca hingga tuntas meningkat pesat sejak saya memetik kiat-kiat di atas. Menurut saya, masalah utama dalam membaca adalah motivasi. Bagaimana dengan Anda?

Tinggalkan Balasan