Kedirekturan

KedirekturanTadi pagi (10 Juli 2014) saya mendengarkan acara “The Captain” di Brava Radio yang menampilkan pembicara Ronny A. Iskandar, Direktur Utama Asuransi Takaful Keluarga. Menarik mendengar sudut pandang beliau tentang peran direktur. Menurut beliau, direktur perlu memberdayakan para stafnya dengan, antara lain, menyediakan “panggung-panggung” kecil tempat para staf ini dapat belajar tampil sebagai pemimpin. Para staf perlu diberikan keleluasaan untuk menentukan sendiri cara melakukan suatu tugas agar mereka dapat berbangga terhadap keberhasilan yang mereka capai. Peran direktur adalah menentukan sasaran yang ingin dicapai pada saat awal serta memberikan arahan yang tidak mendikte selama pelaksanaan pekerjaan.

Selengkapnya

Ngobrol

Saya terpesona dengan film Before Midnight. Film romantis yang dirilis pada awal tahun 2013 di Festival Film Sundance ini membuat saya terpaku sepanjang film. Padahal, sebagian besar film ini hanya diisi dengan dialog antara dua tokoh utamanya, Jesse (Ethan Hawke) dan Céline (Julie Delpy). Pengambilan gambarnya pun hanya dilakukan dalam waktu 15 hari dan dengan biaya kurang dari 3 juta dolar AS.

Waktu dan biaya pembuatan film ini mungkin lebih sedikit daripada film 99 Cahaya di Langit Eropa (99 Cahaya) yang saya tonton beberapa minggu sebelumnya. Meski sama-sama mengambil lokasi di Eropa — 99 Cahaya di Wina, Paris, dan beberapa tempat lain, sedangkan Before Midnight di Peloponnese, Yunani — saya kurang sependapat dengan Pak SBY dan tidak merasakan pesona yang sama dari film 99 Cahaya. Saya bukan pengamat film, tapi saya merasa kualitas olah peran, penyuntingan, dan musik film menjadi faktor pembeda utama di antara kedua film ini.

Selengkapnya

Batas

When you go to your limits, your limits will expand. (Robin Sharma, 2010, hlm. 98)

Sebenarnya saya jarang membaca buku-buku pengembangan pribadi (self-development) seperti buku The Leader Who Had No Title: A Modern Fable on Real Success in Business and in Life karya Robin Sharma. Namun, filsafat “memimpin tanpa jabatan” yang diusung oleh buku ini sangat mengena di hati saya. Saya pun memaksakan diri untuk membaca habis buku ini di sela-sela kesibukan kantor.

Seperti halnya berbagai buku lain dengan genre serupa, buku ini sarat dengan nasihat dan pernyataan bagus, yang sebenarnya sudah kita ketahui, tetapi kadang lupa. Contohnya kutipan pada awal tulisan ini yang saya terjemahkan menjadi, “Saat kita mendekati batas kita, batas itu pun akan mengembang.” Berdasarkan pengalaman saya, pernyataan itu benar belaka dan sudah beberapa kali saya buktikan.

Selengkapnya