Toponimi daerah di Jakarta

Sumber gambar: Goodreads.com

Saya selalu tertarik untuk mengetahui asal-usul suatu kata. Oleh karena itu, saya sangat bersemangat saat menemukan buku Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta karangan Rachmat Ruchiat (2011) di Gramedia BSM Bandung. Buku setebal 190 halaman ini memaparkan asal-usul beberapa nama tempat di Jakarta berikut sedikit sejarah di belakangnya. Banyaknya daftar pustaka yang dicantumkan pada bagian akhir buku ini menunjukkan bahwa penulis cukup ciyus serius dalam melakukan risetnya. Meskipun beberapa nama tempat yang dicantumkan di dalam buku ini sudah saya ketahui atau duga asalnya, tidak sedikit informasi yang baru kali ini terungkap.

Kajian tentang nama tempat seperti topik buku ini disebut toponimi, sedangkan objek kajiannya disebut toponim (nama tempat). Kedua istilah ini berakar dari bahasa Yunani tópos (τόπος) (“tempat”) and ónoma (ὄνομα) (“nama”). Toponimi adalah salah satu dari dua cabang onomastika atau onomatologi, yaitu kajian tentang segala jenis nama diri. Cabang onomastika yang lain adalah antroponimi, yang merupakan kajian tentang nama orang dengan berbagai atributnya, seperti gelar, pangkat, dll.

Wah, jadi melantur. Kembali kepada buku yang telah saya sebutkan pada bagian awal, berikut daftar alfabetis asal-usul beberapa nama tempat di Jakarta yang dicantumkan dalam buku tersebut:

  1. Ancol: Dari kata ancol, sebutan untuk tanah yang menjorok ke laut; tanjung.
  2. Angke: Asal namanya masih belum pasti. Ada pendapat bahwa nama ini berasal dari nama penguasa pertama Jayakarta, yaitu Pangeran Tubagus Angke, menantu Fatahillah. Namun, naskah Bujangga Manik telah menyebut nama daerah Angke, padahal naskah ini dibuat jauh sebelum masa Tubagus Angke.
  3. Bale Kambang dan Batu Ampar: Legenda Pangeran Astawana dan Siti Maemunah mengisahkan bahwa sang Pangeran diminta untuk membangun rumah dan bale (balai) untuk bercengkerama di atas kolam. Nama Bale Kambang diambil dari bale yang seolah-olah mengambang di atas air kolam, sedangkan nama Batu Ampar diambil dari jalan yang dihampari oleh batu.
  4. Bidara Cina: Dari pohon bidara atau Ziziphus sp. yang banyak tumbuh di daerah ini.
  5. Cawang: Dari Enci Awang, letnan Melayu yang mengabdi pada Belanda, yang bermukim di daerah ini bersama pasukannya.
  6. Cijantung: Dari nama anak sungai Ciliwung yang berhulu di Areman, dekat Kelapa Dua sekarang.
  7. Cililitan: Dari nama anak sungai Ciliwung. Lilitan adalah nama tumbuhan perdu dari genus Pipturus.
  8. Cilincing: Dari nama anak sungai Ciliwung. Calincing adalah nama pohon sejenis belimbing wuluh, Averrhoa carambola.
  9. Condet: Dari nama anak sungai Ciliwung: Ci Ondet. Ondet, ondeh, atau ondeh-ondeh adalah nama pohon sejenis pohon buni dengan nama Latin Antidesma diandrum.
  10. Glodok: Ada dua pendapat: (1) Dari grojok, tiruan bunyi kucuran air dari pancuran, karena pada sekitar tahun 1670 di sini terdapat waduk penampungan air Sungai Ciliwung yang dikucurkan; (2) Dari golodok, bahasa Sunda untuk tangga yang menempel pada tepi kali yang dibuat di daerah ini pada sekitar tahun 1643.
  11. Hek: Dari bahasa Belanda hek yang berarti pagar. Di tempat ini dulu ada kompleks peternakan sapi yang sekelilingnya berpagar kayu bulat.
  12. Japat. Dari kata bahasa Belanda jaagpad, suatu istilah dalam pelayaran yang merujuk pada alur sungai atau terusan dangkal yang membuat perahu harus ditarik untuk dapat melaluinya. Daerah ini dulu merupakan jaagpad.
  13. Jatinegara Kaum: Dari kaum, kata bahasa Sunda yang berarti tempat tinggal penghulu agama beserta bawahannya.
  14. Kabantenan: Sejak tahun 1685 daerah ini merupakan permukiman orang-orang Banten di bawah Pangeran Purbaya, salah seorang putra Sultan Ageng Tirtayasa.
  15. Kampung Gedong: Di tempat ini dulu terdapat suatu gedung peristirahatan (landhuis) tuan tanah Tanjung Timur.
  16. Kebayoran: Dari kata kabayuran yang berarti tempat penimbunan batang kayu bayur atau Acer laurinum.
  17. Lebak Bulus: Dari lebak, lembah, dan bulus, kura-kura yang hidup di darat dan air tawar, Amyda cartilaginea.
  18. Luar Batang: Ada dua pendapat: (1) Dari kurung batang, istilah setempat untuk keranda, terkait dengan legenda Sayid Husein bin Abubakar bin Abdullah al-Aydris; (2) Dari lokasinya yang terletak di luar daerah penghalang empang yang dibatasi dengan batang kayu yang diperkuat dengan besi.
  19. Manggarai: Dari nama tempat asal para penghuni awal daerah ini, yaitu orang-orang Flores Barat.
  20. Marunda: Dari nama pohon marunda, nama lokal untuk pohon kebembem.
  21. Pajongkoran: Dari nama Kapten Jonker yang menguasai wilayah ini dari 1676 hingga 1682. Joncker adalah gelar kehormatan di Ambon pada zaman itu.
  22. Pancoran: Dari pancuran yang dibangun di daerah ini pada sekitar tahun 1670.
  23. Pegangsaan: Ada dua pendapat: (1) Dari kata angon atau pemeliharaan angsa karena dulu tempat ini dipakai untuk itu; (2) Dari kata gangsa yang berarti perunggu karena dulu tempat ini banyak dihuni oleh para pengrajin perunggu.
  24. Petojo: Dari nama Aru Petuju, seorang pemimpin orang-orang Bugis yang mendapat hak pakai kawasan ini pada tahun 1663.
  25. Pluit: Dari kata bahasa Belanda fluitschip, yang berarti kapal layar panjang berlunas ramping, atau disebut fluyt dalam bahasa Inggris. Pada sekitar tahun 1660 di daerah ini ditempatkan suatu fluitschip bernama Het Witte Paert, yang sudah tidak laik laut, untuk menjadi kubu pertahanan.
  26. Ragunan: Dari nama Pangeran Wiraguna, gelar yang diberikan kepada tuan tanah pertama daerah ini, Hendrik Lucaasz Cardeel, oleh Sultan Banten Abunasar Abdul Qahar.
  27. Roa Malaka: Ada dua pendapat: (1) Dari kata rawa dan malaka (nama pohon); (2) Dari kata bahasa Portugis rua (jalan) karena tempat ini pernah dijadikan permukiman orang-orang Portugis yang ditawan di Malaka setelah kota tersebut direbut Belanda dari Portugis pada tahun 1641.
  28. Salemba: Dari nama Struys, tuan tanah pertama daerah ini.
  29. Senayan: Dari kata wangsanayan yang dapat berarti tanah milik seseorang yang bernama Wangsanaya. Orang tersebut diduga menguasai daerah ini pada sekitar tahun 1680 dan diduga berasal dari Bali.
  30. Senen: Dari kata Senin, hari pasar yang awalnya ditetapkan untuk pasar yang ada di daerah ini.
  31. Srengseng: Dari nama tumbuhan semacam pandan yang berdaun lebar dan pinggirnya berduri, Pandanus caricosus.
  32. Tanah Abang: Dari kata bahasa Jawa abang yang berarti merah, warna tanah di daerah ini.
  33. Torong: Dari kata bahasa Belanda toren yang berarti menara karena di daerah ini pernah ada menara peneropong yang didirikan oleh seorang pendeta Belanda.
  34. Tugu: Dari nama prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang ditemukan di daerah ini.

Daftar yang saya cantumkan di atas hanyalah secuplik dari kekayaan informasi yang terdapat dalam buku ini. Bila Anda memiliki minat serupa dengan saya terhadap asal-usul kata, khususnya nama tempat, saya pikir buku ini sangat bagus sebagai sumber tambahan wawasan. Sebagai penafian, saya belum mendapat kehormatan untuk berkenalan penulis buku ini dan tidak mendapat insentif apa pun dengan mengulas buku ini. Ulasan ini merupakan penghargaan saya terhadap jerih payah sang penulis dalam mengumpulkan keping-keping informasi yang terserak menjadi suatu buku yang padu.

Satu komentar pada “Toponimi daerah di Jakarta

  1. Tentang Angke, info yang saya dapatkan selama ini kata Stephen. Angke = sungai/air merah?

    Tentang penamaan tempat, saya kurang sreg dengan kecenderungan penggantian nama jalan dan kampung di pelbagai kota dengan nama baru karena mengaburkan jejak toponimis.

  2. Terima kasih, Pak Stephen dan Paman Tyo. Artikel ini akan saya perbarui sesuai dengan masukan ini.

    Tentang penggantian nama jalan yang mengaburkan sejarah juga dibahas dalam buku ini, Paman. Beli, deh. Gak rugi, kok :)

  3. Daerah ‘Velbak’ atau ‘Pelbak’ konon berasal dari kata Belanda ‘vuilnisbak’ (bak sampah).

Tinggalkan Balasan ke Stephen Suleeman Batalkan balasan